Mungkin ini terlambat, tapi… inilah proses kehidupan yang memerintahkan Aku untuk tidak cepat berputus asa, selalu belajar memetik setiap buah dari kegagalan yang indah dan mengatakan tidak ada yang terlambat selagi mau belajar dan berubah lebih baik J
Aku mau coba share yaaa…
Setelah merasakan bagaimana sikon mendidik, dengan sendirinya akan terbesit jiwa yang tidak mudah putus asa. Ternyata untuk memanusiakan anak manusia, tidak semudah yang dulu Aku bayangkan.
Kata SABAR itu yang paling penting. Seorang pendidik yang baik menurut Aku, adalah beliau yang memiliki banyak Ilmu dan kemudian di bagikan untuk segenap murid-muridnya, dan orang-orang yang bukan tergolong anak didik "resmi" seperti di sekolah atau di kampus, tapi dengan jiwa pendidiknya, dia mampu mempersembahkan pengetahuan dan pendidikan yang terbaik untuk setiap orang yang membutuhkan pengetahuan, baik pendidikan yang bersifat pengetahuan umum atau pengetahuan Diniyah.
Perasaan ini timbul Saat wisuda kemarin sabtu, 28-01-2012. Melihat anggota senat Unindra, subhanallah.. dosen-dosen yang insya Allah penuh berkah sepanjang hidupnya "aamiin".
Dari cara jalan yang tidak segagah dosen muda yang juga menuai banyak prestasi, beliau tetap terlihat berwibawa dalam balutan pakaian kebesaran senat saat itu. Mayoritas rambut yang tidak lagi hitam, senyuman yang kini semakin membuat wajahnya penuh kerutan. Tapi apa pernah kita meresapi perjuangan beliau-beliau di masa lalu?? Sebelum mereka menjadi guru besar seperti sekarang ini?? Apakah semangat belajar beliau-beliau ini ikut berkerut layaknya kerutan usang yang hanya tinggal menunggu waktu??
Saya pikir tidak demikian, Beliau-beliau tak kenal kata lelah untuk belajar, sampai seumur yang sudah dikatakan "udzur", beliau tetap istiqomah dalam dunia pendidikan. Lalu kemudian Saya pun mulai membandingkan,berkaca dan belajar mengintropeksi pada diri saya sendiri 'kalau saja saya harus belajar dan membaca buku setiap hari.. entahlah, seperti apa otak saya? Kalau membayangkan buku tebal dan tipis tapi bahasanya rumit dipahami, sepertinya akan terasa benar-benar penat'
Tapi, AYO.. lihatlah beliau… Pandangi beliau dengan penuh rasa cinta..
Beliau se-tua itu tetap mendirikan kesabaran dalam sanubarinya. Mereka (guru besar) tetap sabar untuk terus belajar, tetap sabar untuk menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki. Bahkan beliau masih sanggup bersabar melihat sikap dan tingkah mahasiswa mereka atau murid mereka.
Subhanallah... Mereka itu layak dikatakan sosok yang luar biasa. Beliau layaknya seorang Ayah atau Ibu di tempat kita menuntut Ilmu. Kalau ingat masa-masa sekolah dan kuliah kini hanya meninggalkan rasa menyesal. Hal ini tidak hanya di pikirkan oleh Saya, tapi terbesit juga di benak D'Beys (sahabat saya) yang dulu memiliki sindrom semangat kuliah berkobar saat memasuki awal semester baru, kebelakangnya, kembali melempem J
Astagfirullah..Seolah baru tersadar dari pingsan yang berkepanjangan.
***
hmmm setujuuu kita kehilangan semangat belajar, tapi ini belum terlambat, ayoo kita belajar dari hal-hal kecil dari ilmu yang tidak kita ketahui sebelumnya, tetaplah belajar sampai kapanpun karena ilmu itu cahaya(Al ilmu nuurun)
BalasHapus